Di tahun ini, tahun 2008, Indonesia akan segera berumur 63 tahun. Artinya, indonesia secara resmi telah bebas dari segala penjajahan dan imperialisme fisik selama 63 tahun itu. Sayangnya, Indonesia ternyata tidak benar-benar telah terbebas dari imperialisme. Terutama dari imperialisme nonfisik yang sebenarnya masih menggerogoti Negara ini hingga saat ini.
Indonesia adalah Negara karunia dan rahmat yang di setiap jengkalnya berimpahan berkah dari Alloh SWT, Tuhan pencipta alam semesta. Kekayaan hutan, lahan pertanian, pertambangan, hasil laut, dan lainnya. Tapi rahmat Tuhan itu tidak kita rasakan sekarang sebagai rahmat yang kita nikmati, rahmat yang dapat menyejahterakan kita sebagai manusia yang dikandung oleh Ibu Pertiwi.
Yang kita rasakan sekarang justru kesempitan dan berbagai kesulitan. Dalam hitungan hari selama bulan Maret dan April 2008 ini, harga sebagian besar barang keperluan sehari-hari melonjak tajam. Di beberapa pasar tradisional di Pekanbaru, misalnya, harga minyak goreng menembus Rp 13 ribu/kg, dari sebelumnya Rp 11 ribu/kg. Minyak goreng kemasan yang biasa dijual Rp 12 ribu/liter, kini dijual Rp 12.500/liter. Harga cabai merah sempat mencapai level tertinggi, yaitu mencapai Rp 40 ribu/kg, sementara sebelumnya Rp 20 ribu/kg. (Riau Pos, 6/3/ 2008).
Gula pasir pun mengalami lonjakan harga dan sampai sekarang masih berlanjut; dari harga eceran Rp 6.800/kg, lalu naik menjadi Rp 7.000/kg, dan kemudian saat ini dijual Rp 7.400/kg. (Wapada Online, 3/4/2008).
Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Bandung juga naik. Harga telur menjadi Rp 12.800/kg, padahal beberapa pekan sebelumnya harganya masih Rp 12.000/kg. (Tribunjabar, 6/42008). Tak ketinggalan pula harga daging ayam. Di sejumlah pasar tradisional di Yogyakarta, misalnya, kenaikan harga ayam mengakibatkan omzet penjualan turun hingga 50 persen. Bahkan beberapa pedagang mengaku sering tidak mengantongi keuntungan sama sekali. Di Pasar Bringharjo, harga daging ayam potong masih dalam kisaran Rp 16.500/kg, padahal minggu sebelumnya hanya Rp 15 ribu/kg. (MetroTV, 7/4/2008).
Lalu, seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk mengkonversi pemakaian minyak tanah ke gas, di pasaran harga tabung gas dan isinya justru meroket. Di beberapa daerah di Jakarta, misalnya, tabung dan isinya yang 12 kg mencapai Rp 700 ribu-750 ribu. Sudah begitu, barangnya pun sulit didapat (Kompas, 15/4/2008).
Belum lagi kelaparan dan kemiskinan yang melanda negeri kita tercinta ini. di Makassar, seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan dan anaknya berusia 5 tahun meninggal karena kelaparan. (Metrotv, 1/3/08). Sebanyak 2,5% dari total penduduk Indonesia dalam kondisi rawan pangan. Artinya, sekitar 5 juta rakyat negara agraris ini makan kurang dari dua kali sehari. Hal tersebut dikatakan Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Departemen Pertanian Tjuk Eko Haribasuki di sela-sela seminar Pendidikan Agroforestry Strategi Menghadapi Pemanasan Global di Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, 4/3/08.
Jumlah penduduk miskin bertambah dari 36,1 juta pada 2004 menjadi 39,3 juta pada 2006 dengan pendapatan Rp 151.997/orang/bulan sebagai garis kemiskinan, atau hanya sekitar seperlima dari Kebutuhan Hidup Minimum yang sebesar Rp 719.834/orang/bulan (BPS: Indikator Kunci Indonesia 2007).
Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli memprediksi angka kemiskinan meningkat 2008 ini. Selama tiga tahun terakhir anggaran pengentasan kemiskinan naik 2,8 kali, namun jumlah orang miskin semakin meningkat. (Metrotv, 27/12/07).
Berdasarkan data Depkes, jumlah balita kurang gizi dan gizi buruk mencapai 4,1 juta jiwa (Kompas, 10/3/08). Di Temanggung Jawa Tengah, 299 anak menderita gizi buruk akut. Mereka belum tertangani karena minimnya fasilitas pelayanan (Metrotv, 9/3/08).
Ada apa dengan Indonesia? hingga ia seperti ayam yang mati di lumbung padi?
Kita sebenarnya masih bias untuk keluar dari segala kesempitan yang melanda. Kita masih punya harapan untuk dapat kembali kepada kesejahteraan. Harapan itu tidak lain adalah dengan kembalinya kita kepada syari’at Islam, sebuah tatanan sistem kehidupan yang diturunkan Alloh SWT melalui Rasul-Nya untuk kesejahteraan seluruh alam. Sistem inilah yang akan mampu mengakomodasikan semua kekayaan alam agar dapat kita nikmati dan menjadi rahmat yang benar-benar kita syukuri. Wallahu alam.
Ditulis oleh : Ganep Agus Djuardy, dari berbagai sumber.